Friday, September 26, 2014

Surat Terbuka Untuk Pacar yang Suka Ngambek







Kepada pacar yang aku sayangi, haruskah aku kenalkan dulu namaku di surat ini? Atau, perlukah aku tautkan akta kelahiranku? Karena setiap kali kamu marah, kamu seolah hilang ingatan. Lupa semua yang pernah kita lakukan, termasuk namaku.

Kepada kamu yang kalau marah selalu bilang “nggak apa-apa”, tahukah kamu kalau kalimat itu sulit sekali diartikan?

Aku tanya Kamus Besar Bahasa Indonesia, nggak ada artinya. Aku tanya Kamus Besar Bahasa Inggris, makin ngawur. Aku tanya Kamu Besar Bahasa Kalbu, kamusnya nggak ada. Dan ketika aku bertanya padamu, pada kamu yang hanya kamu yang tahu arti dari kalimat itu, kamu hanya menjawab “pikir aja sendiri”.

Di saat itu aku merasa menjadi orang bego. Orang bego yang ditipuk sama kue pie.

Tiap hari kamu selalu berkata kalau kamu nggak suka marah. Tapi ternyata, setelah aku hitung, kamu selalu saja marah. Tiap hari. Apa kamu nggak capek? Apa pita suara kamu nggak putus karena teriakan itu? Mungkin kamu nggak capek, pita suaramu juga nggak akan putus. Tapi aku capek, asa dan hubungan kita yang mungkin akan putus.

Putus. Awalnya kupikir itu adalah jawaban, tapi ternyata itu adalah jalan yang sesat. Pikirku berkata, mempertahankan adalah jalan yang lurus. Namun, bukan berarti kamu harus tetap begitu dan aku harus terus menerima. Aku harus bertahan tapi melawan, dan kamu harus berubah.

Surat ini adalah bentuk perlawanan. Ya, cupu memang, tapi walau hanya surat, aku pengin kamu membaca dan merenungkan semua. Kamu ingat waktu aku coba melawanmu secara langsung? Ya, kamu selalu menang. Ekspresi itu, mata itu, mengalahkan semua kekuatanku.

Untunglah, di surat ini kita nggak bertemu. Tak ada teriakan dan tak ada wajah cemberut kamu yang buruk rupa itu. Yang ada hanya kebebasan perasaanku, tanpa ada rasa takut kalau kamu akan menangkis semua alasanku.

Baiklah, sekarang aku kasih tahu sama kamu.

Pertama, kenapa sih harus marah? Dari sekian banyak cara menyelesaikan masalah, kenapa harus marah yang kamu pilih? Kenapa kamu nggak milih menenangkan diri dulu lalu membicarakan semuanya perlahan-lahan?

Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya, tapi marah cuma akan membuat kita makin tersesat dalam goa yang tak ada jalan keluarnya. Kalau kamu memang berniat memperlebar masalah, silakan kumpulkan semua bukti kesalahaku, lalu ajukan semuanya ke Mahkamah Konstitusi.

Dua, kenapa sih selalu jadi aku yang salah? Kan yang salah itu kamu. Misalnya waktu kamu telat masuk kelas, kamu marah sama aku karena aku yang lambat. Padahal kan kamu yang dandannya terlalu lama.

Ooooh, aku tahu. Aku cuma pelampiasan kan?

Nih aku kasih tahu ya. Kamu jangan pernah malu mengakui kesalahan. Kalau kamu yang salah, akuin aja. Ngapain nyari pelampiasan buat nutupin kesalahan kamu sendiri? Kalau kayak gitu, kamu hanya akan pintar nutupin kesalahan, bukan pintar ngambil pelajaran ataupun menyelesaikannya.

Sekarang lihat deh diri kamu. Apa sebenarnya yang bikin kamu selalu marah. Alasan pertamamu mungkin karena kamu lagi PMS. Oke fine, itu manusiawi. Tapi masa kamu menggunakan alasan PMS tiap hari? Mamalia macam apa yang menstruasinya tiap hari?

Perasaanku yang ketiga, kenapa sih kamu nggak bisa jadi seperti aku? Waktu kamu sama temenmu, aku izinin. Tapi kenapa waktu aku mau kumpul sama temen, nggak kamu izinin? Pas kamu tergila-gila sama sinetron Mahabarata, aku biasa aja. Tapi kenapa pas aku sibuk nonton drama Korea kamu malah marah-marah? Pas kamu pasang wallpaper Zayn Malik, aku selow aja. Tapi kenapa pas aku pasang wallpaper Yoona kamu malah hapus-hapusin koleksi fotoku?

Aku rasa kamu masih belum bisa berempati. Kamu belum bisa nerima aku seperti aku nerima kamu. Kamu belum bisa memahami aku seperti aku memahami kamu. Atau jangan-jangan, kamu belum bisa mencintai aku seperti aku mencintai kamu?

Kepada kekasihku yang akan aku janjikan cincin di jarinya, please sayang, tahan emosi kamu. Jangan biarin api emosi itu ngebakar semua hati kamu. Semua bisa kita selesaikan pakai obrolan, senyuman, bahkan pelukan.

Kamu mungkin mikir semua malah bisa diselesaikan pakai teriakan. Hemmm, nggak honey. Masalah bisa kita selesaikan sambil diam kok. Asal mata kita ketemu dan kita bicara soal kejujuran.

Tapi sebelum aku akhiri surat ini, aku ingin tanyakan sekali lagi...
Kenapa sih harus ngambek terus?


No comments:

Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...